SOCIAL MEDIA

Monday, May 8, 2017

[Resensi] Luka Dalam Bara


Judul: Luka Dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Ilustrasi sampul & isi: @alvinxki
Penerbit: Noura (PT. Mizan Publika)
Cover: Hard Cover
Cetakan ke: 1
Halaman: 108 hal
Tahun terbit: Maret, 2017
ISBN: 978-602-385-232-1
Harga: Rp. 49.000,-


Semua orang pasti punya masa lalu. Entah itu baik atau pun buruk. Berkisar tentang kisah kesedihan, kemarahan, cerita lucu, termasuk kisah percintaan.

Begitu juga yang dialami oleh Penulis. Fragmen-fragmen dalam bukunya menceritakan tentang kisah masa lalunya bersama sang mantan yang ia sebut sebagai nisan atau monumen.

Secara umum, tujuan penulis menulis buku ini adalah untuk kabur dari kenyataan. Baginya dunia sehari-hari, meskipun menyenangkan, selalu terasa kurang. Ia ingin menciptakan dunia yang nggak ia temukan di mana pun melalui tulisan. Ya, sebuah dunia alternatif.

Selain itu, untuk mengeluarkan ragam macam emosi yang nggak selalu bisa ia ungkapkan secara langsung. Dan.... alasan lainnya adalah untuk menyembuhkan dirinya dari perasaan-perasaan yang nggak ingin dimiliki.

Secara khusus bisa jadi penulis menuliskan buku ini untuk seseorang. Siapa lagi kalau bukan untuk Sang Mantan.

Buku ini menyasar pembaca remaja, namun nggak menutup kemungkinan emak-emak pencinta buku dan sastra kayak saya juga akan menyukainya. 

Hal yang menarik dari buku ini adalah permainan kata yang bikin melting dan bermakna dalam. Meski terkadang ada beberapa bagian yang mengharuskan kita membaca berulang kali untuk mendapatkan maknanya. Dari sekian banyak deretan kalimat yang saya suka, diantaranya:

Halaman 21: Kamu tahu, pada akhirnya aku merasa bukan hanya aku dan kamu yang mencintai kata-kata. Kata-kata pun, menyayangi kita.

Kalimat, "Kata-kata pun, menyayangi kita," membuat pundak saya turun setelah sebelumnya tegap. Sulit menggambarkan apa yang saya rasa *lebay. Melebihi kata so sweet. Kata yang sebelumnya saya rasa nggak kepikiran oleh orang kebanyakan.

Halaman 38: Bagiku, pertengkaran adalah petunjuk bahwa kita sedang memperjuangkan sesuatu. Tentu saja kamu juga tahu, bahwa dua orang tidak akan bertengkar jika mereka tidak sedang memperjuangkan apa-apa.

Langsung kebayang suami, haha. Benaaarr.. walau saat bertengkar ego masing-masing memuncak, namun percayalah, di balik itu ada makna yang lebih dalam. Bahwa aku dan kamu sedang memperjuangkan cinta kita, *uhuk.

Halaman 46: "....Begitulah, terkadang saat kita sudah terbiasa dengan sesuatu, kita tidak menyadari bahwa ada hal yang lebih indah dari kebiasaan-kebiasaan itu.... Kamu cantik & indah saat aku tidak mengenakan kacamata. Dan, kamu lebih cantik dan indah lagi saat aku mengenakan kacamata.

Zona nyaman! Banyak yang lebih memilih menetap di zona nyaman. Dan tidak atau lupa menyadari bahwa ada hal yang lebih indah dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya. Terimakasih sudah mengingatkan Bar! *sok akrab :p

Fragmen-fragmen di dalam buku ini didominasi kisah penulis tentang percintaan - awal mula perjumpaan, perjalanan selama berhubungan dengan sang mantan.

Tapi kalau dikaitkan dengan judul, saya nggak menemukan "Luka Dalam Bara." Ada di bagian mana luka itu? Karena hingga endingnya pun masih dominan bercerita tentang hal indah. Meski ada konflik tapi saya rasa bukan itu luka yang dimaksud.

Atau jika menilik lebih dalam, mungkin terjawab di judul bab, "Ingatan-ingatan yang Hanya Samar." Yang mungkin memiliki arti semua sudah menjadi kenangan. Dan kenangan-kenangan itulah yang menjadi Luka Dalam. Biar lebih paham, baca tulisan saya, "Luka Dalam Bara Book Tour Bandung."

Pilihan kata yang dalam dan indah menjadi bagian dari kerennya buku "Luka Dalam Bara." Kata penutup di setiap cerita membuat kisah terasa sempurna. Kisah sehari-hari yang pun terasa akrab di diri kita.

Ditambah desain cover dan ilustrasi buku yang ciamik, plus sampul yang hard cover dan kertas yang ringan menambah deretan kecakepan buku ini.

Secara keseluruhan buku ini bisa melepas dahaga saya yang udah lama nggak membaca buku yang memiliki kata-kata indah. Dan buku ini juga yang membuat saya rindu dan terpanggil kembali membaca buku sejenis.

Terlepas dari keyakinan saya yang setelah tobat nggak menganut budaya pacaran, *punteeeen.. Buku ini tetap keren untuk dimiliki. Daftar toko yang menjual buku ini bisa dilihat di tulisan saya "Luka Dalam Bara Book Tour Bandung."

21 comments :

  1. Ahh~~
    Tulisan resensi Uni pun membuat aku melting.

    *belajar menulis resensi yang baik....Uni memberikan gambaran bahwa tak selamanya sebuah karya akan terasa indah bagi penikmatnya.

    Bara bener-bener bikin aku jadi puitis.
    Abis baca buku Luka Dalam Bara, aku langsung search karya 1-10 nya.

    Yuhhuu...
    Ternyata terselip di rak bukuku, salah satu karya Antologinya yang berjudul Cinta Pertama.

    **mengenal sosok Bara lebih dekat sebagai seorang penulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi sampe googling ini mbae XD btw ntr pinjeeem yaa haha

      Delete
  2. tidak menemukan lukanya Na?tp aku penasaran pasti ada bagian klimaks ceritanya apakah ada konflik didalamnya atau mmg alurnya spt itu maju terus tnp ada konflik dan penyelesaian?

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan novel atau pun cerpen juga va. jd ga ada klimaksnya, hihi. hayyu dbacaa..

      Delete
  3. Aku belum baca bukunya, tapi kayaknya menarik juga ya walaupun target pembacanya segmen remaja. Quote dari buku ini juga bagus-bagus, teh. Nive review. :)

    ReplyDelete
  4. Resensinya sukses bikin aku penasaran deh, pulang kantor langsung ke tokbuk ah.

    ReplyDelete
  5. Udah follow Bara dari dulu.. jaman dia punya radiogalauFM lalu akhirnya ketauan dia adminnya hahaha, salut sih sama dia anak IT tapi nyasar di kepenulisan. Dan ternyata buku yang ini kisah dia sendiri ya.. jadi penasaran hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh anak IT haha baru tau.. anak kekinian pasti taulah ya siapa Bara XD

      Delete
  6. Menyentuh, baper bacanya teh :')

    ReplyDelete
  7. Pertengkarannantara 2 org pertanda sedang memperjuangkan sesuatu, hmm iya bener juga. Lgsung inget suami jg aku. Haha

    ReplyDelete
  8. Ya ampun, hrs baca nih kayanya...

    ReplyDelete
  9. Belum pernah baca buku Bernard Batubara kayaknya. Eh pernah gak ya. Duh bahasanya multitafsir juga ya. Seru menyelaminya.

    ReplyDelete
  10. Aihh Bang Ben selalu membuatku jatuh cinta dengan katakatanya

    ReplyDelete
  11. Bakalan bisa move on nggak mba setelah membaca buku ini? Hihiii

    ReplyDelete
  12. Kalau baca buku yang akhirnya happy ending seneng deh, kalo enggak suka bikin nyesek hihi, sama kayak nonton film

    ReplyDelete
  13. cowo ini sukses bikin pembaca klepek-klepek deh. Trus apa kabar si nisan alias monumen?

    ReplyDelete
  14. makin seru kalo udh baca buku ini

    ReplyDelete
  15. Bacanya bikin penasaran. Belakangan ini sering lihat buku ini, baik di blog ataupun IG. Jadi pengen punya dan baca langsung teh..

    ReplyDelete