SOCIAL MEDIA

Saturday, November 5, 2016

Pengalaman Menjadi Relawan Trauma Healing


Nostalgia masa muda, *emang sekarang udah .... ? Wkwkw... Teringat pernah menjadi relawan semasa kuliah, dan itu enggak mudah. Apalagi kalau terbiasa hidup manja. Kebayang donk kondisi di lapangan kayak gimana? Mandi dan segala macem enggak jelas bakal dimana. Tapi di saat bencana melanda, nurani siapa yang enggak terketuk. Melihat saudara-saudara yang membutuhkan bantuan. Apalagi jika profesi kita dekat dengan yang dibutuhkan oleh mereka. Berikut cerita saya kala pernah menjadi relawan di tahun 2009.

Ya, saat itu, tanggal 30 september 2009. Sumatera Barat diguncang gempa. Sebagai seorang mahasiswa Psikologi, saya selayaknya turun ke lokasi bencana untuk memberikan trauma healing. Alhamdulillah bisa melaluinya dengan baik. Berikut adalah pengalaman saya menjadi relawan di lokasi yang belum pernah saya datangi sebelumnya.Ternyata banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik.


Jum’at, 9 Oktober 2009
Sejak kamis sore kami tim relawan mahasiswa sudah sampai di Pauah Kamba, Pariaman. Hingga malam, waktu kami habiskan untuk membantu mengepak logistik yang akan dibagikan ke korban bencana, sembari menunggu rekan-rekan dari Bukittinggi yang baru datang pada malam harinya.

Sebelum Subuh kami sudah bersiap-siap. Berangkat sesegeranya dan berniat melaksanakan shalat subuh di jalan. Kami menaiki mobil pick up. Saya sibuk menutupi hidung dan mulut dengan topi sweater, karena saya baru saja sembuh dari demam. Jika tidak ditutup, angin Subuh bisa membuat saya batuk-batuk. Baru jalan beberapa meter, adzan berkumandang. Kami berhenti di sebuah Mesjid. Setelah shalat, kami pun melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan kami lebih banyak ditemani oleh redup-terangnya lampu jalanan dan perumahan, karena listrik masih padam. Tak luput pula pandangan saya melihat atap-atap rumah yang mencium tanah. Tanah merah mengambil alih, mendominasi pemandangan perbukitan dan tepi jalan yang biasanya berwarna hijau. Jalan-jalan retak. Tak ayal, mobil kami seringkali berjalan perlahan, melewati jalan yang keadaanya tak lagi rata. Pembatas jalan pun telah anjlok dimakan jurang. Miris hati ini melihat. Apalagi melihat sekolah-sekolah tak lagi utuh seperti biasanya.

Sesampainya di Padang Alai kami segera menemui tim sekolah rakyat yang berasal dari Jakarta. Kami turun di daerah gempa sebagai anggota tim trauma healing untuk anak-anak. Sewaktu kami berada di dalam kelas yang keadaannya masih bisa dipakai, seseorang menghampiri kami. Ternyata beliau relawan dari perusahaan Kaltim. Ia seorang dokter. Ia sempat terjun untuk mencari korban. Pembicaraan awal seputar pengenalan diri masing-masing. Hingga sampailah di pertanyaan yang jawabannya membuat kami terpana.

Ia pun bercerita. “Sewaktu Saya dan teman-teman mencari korban di daerah atas sana, kalau tidak salah namanya Koto Tinggi. Kami menemukan sebuah keajaiban. Mungkin Allah ingin menunjukkan kuasa-Nya pada kami. Waktu itu Saya mencium bau bangkai. Menyengat sekali. Kami segera menggali dan ternyata yang kami temukan seekor binatang. Tapi entah kenapa setelah selesai, Saya masih memiliki firasat kalau masih ada mayat di sana.”

“Akhirnya Saya tidak menghiraukannya dan kemudian mencari lokasi lain. Setelah sampai di lokasi yang tidak berjauhan dari lokasi semula, Saya masih tetap memiliki firasat itu. Saya memutuskan untuk kembali ke lokasi awal. Saya masih ingat tempatnya di mana karena Saya sudah menandai ada sebuah batu di dekat sana. Akhirnya Saya dan teman-teman menggali longsoran tanah itu, memang benar, ternyata ada mayat. Mayat itu berada dalam posisi sujud sembari memegang Al-Qu’ran di kedua tangannya dan tidak berbau sama sekali. Padahal sudah tiga hari, seharusnya sudah bau. Binatang yang saya temukan saja baunya sudah menyengat”. Seketika bulu roma berdiri. Subhannallah… saya tak pernah membayangkan akan memperoleh cerita seperti ini.

Sabtu, 10 Oktober 2009
Di sini kami menemukan banyak relawan. Ada relawan dari perusahaan yang berasal dari Kalimantan Timur, Mahasiswa dari Institut Teknologi Medan, Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unand, dan masih banyak lagi. Ada yang berfokus pada batuan logistik, bantuan medis, dan bantuan psikologis.

Bantuan psikologislah yang bisa kami berikan. Kami kembali bermain, menonton film, dan membaca buku cerita di tenda. Hingga hubungan kami pun kian dekat. Sehingga diketahuilah ada anak bernama Nando yang diklaim teman-temannya sebagai artis Padang Alai. Ia sering di undang ke acara-acara pernikahan untuk bersenandung. Ada pula Rizki yang jago ngaji yang sering menang MTQ. Lain pula halnya dengan Nia. Siswi kelas 6 SD yang tomboy tapi manis, jago berteriak. Belum lagi si kembar Dea dan Dian yang hobi bergelantung. Winda siswi kelas 3 SD yang pendiam namun penuh kejutan. Dan masih banyak lagi.

Sayang, karena ada sesuatu hal, saya harus kembali ke Padang. Tetapi, ini akan menjadi cerita yang terus berkesan di hati kami.

**Dimuat Majalah Girlie Zone edisi 9/ November – Desember 2009.

10 comments :

  1. Wah MasyaAllah sekali cerita ini... saya juga merinding sekali mendengarnya... pengalaman yang luar biasa ya bisa melihat secara langsung kejadian luarbiasa mukjizat AlQuran

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah...merinding bacanya, Mbak.
    Salut juga buat Mbak Shona sudah menjadi relawan.

    ReplyDelete
  3. Salut terhadap orang yang menyisihkan waktu dan tenaga menjadi relawan. Beberapa hari laku teman relawan di Dompet Dhuafa Om Peng telah berpulang ke rumah Allah. Semoga amal baiknya diterima. Amin...

    ReplyDelete
  4. trauma healing itu agak susah pengobatannya ya mba.. kalo sakit fisik tinggal nelan obat..klo trauma itu soal kejiwaan...

    hebat..jempol buat relawan..

    salam kenal..mba..aku follow blognya ya..

    ReplyDelete
  5. Aku harus banyak belajar nih tentang trauma healing. Tapi memang kita harus peka ya mba

    ReplyDelete
  6. Wah.. dulu juga pernah gabung di tim trauma healing. Bagi sebagian perempuan sensitif kalau ada yang lagi nangis kadang malah kebawa.. tapi jadi tim trauma healing harus kuat ya mba *fyuuh tantangan tersendiri ini apalagi pas korban ditemukan dan kita mendampingi keluarga korbannya

    ReplyDelete
  7. Menjadi relawan keren banget, dulu tahun 2004 sempat kepengen ke Aceh, namun keburu ga disuruh ortu jauh banget.

    ReplyDelete
  8. Jadi pingin sekolah psikologi, Uniii....

    ReplyDelete
  9. Luar biasa pengalaman yang didapat mbak.
    Aku pernah jd relawan jg, tapi gk sampai berurusn sama korban yang sudah meninggal sih mbak, saat itu pernah ke Yogya dan Jember saat bencana alam dulu. Bahagia pas interaksi sama anak2 di sana. Mereka bahkan gak sadar kalau baru ada bencna, namanya juga anak2 sih hehe

    ReplyDelete
  10. masih kontak dengan anak-anak di daerah bencana itu kah? atau pernah kembali lagi ke sana?

    ReplyDelete