Skip to main content

Fobia Angin Kencang

www.psych2go.net
Ada yang pernah mengalami atau masih mengidap gangguan fobia? Saya dulu pernah. Fobia angin kencang. Lebih tepatnya sih, angin kencang yang muncul disertai awan gelap. Kalau cuacanya cerah malah enggak kenapa-napa. Dimulai sejak SD tapi lupa kelas berapanya, hingga SMA. Cukup lama ya?

Penyebabnya saya enggak tau, tapi yang pasti kalau si angin muncul, saya langsung ketakutan, menutup mata kuat-kuat, dan kadang gemetaran. Pernah juga tiarap, heu. Dari SD-SMP jika angin datang saya akan menggedor-gedor pintu kamar orang tua saya, minta tidur di tengah-tengah mereka. Hehe.... Kalau diingat-ingat benar-benar aneh dan diluar akal sehat. Itulah fobia.

Lebih jauh apa sih fobia itu?

Para Psikopatolog mendefinisikan fobia sebagai penolakan yang mengganggu yang diperantarai oleh rasa takut yang enggak proporsional dengan bahaya yang terkandung didalamnya (objek atau situasi tertentu), dan diakui oleh si penderita sebagai sesuatu yang enggak berdasar. Singkatnya fobia adalah ketakukan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya.


"Fobia adalah ketakukan dan penolakan terhadap objek atau situasi yang tidak mengandung bahaya yang sesungguhnya."


Kriteria DSM-IV-TR untuk Fobia
  • Ketakuan yang berlebihan, enggak beralasan, dan menetap yang dipicu oleh objek atau situasi
  • Keterpaparan dengan pemicu menyebabkan kecemasan intens
  • Orang tersebut menyadari bahwa ketakutannya tidak realistis
  • Objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan kecemasan intens
**DSM: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder


Lalu bagaimana cara mengatasi atau menghilangkan gangguan fobia?

Kuliah di kota yang berbeda membuat phobia saya hilang. Ya, saya tinggal di Padang yang dekat dengan pantai. Jadi angin kencang sudah menjadi langganan. Berbeda dengan tempat saya kuliah di Bukittinggi yang merupakan daerah pegunungan. Alhamdulillah hilang dengan sendirinya. 

Jika kamu masih fobia terhadap sesuatu, berkunjunglah ke Psikolog, akan ada beberapa terapi yang dilakukan (tergantung Psikolognya) seperti pendekatan psikoanalisis, behavioral, kognitif, dan biologis (maaf tidak saya jelaskan satu per satu, karena bahasanya njelimet, hehe).

Saya sendiri sangat merasakan betapa enggak nyaman dan merasa terganggu dengan fobia. Terus kenapa saya enggak ke Psikolog? Sebelum kuliah di Psikologi saya salah kaprah. Dulu mikirnya yang ke Psikolog itu hanya orang gila atau gangguan psikologis berat lainnya. Padahal enggak.

Enggak betah kan berlama-lama dengan fobia yang diderita. Apalagi jika sering berhadapan dengan hal yang ditakuti seperti fobia sosial, ketinggian, gelap, tempat sempit seperti lift, dll. Mending segera diselesaikan. Right?

Comments

  1. Kalau saya mah belum ketemu mbak pobianya jadi gak bisa mencegah deh sama pobia saya apa, tapi semoga saja tidak ada pobia, ahi hi hi biar aman aman saja.

    ReplyDelete
  2. kalau aku pobia petir sejak kecil, kalau sudah hujan yang ada petir nya aku pasti stress kepala langsung sakit, makanya kalau hujan aku lebih nyaman dalam ruangan tertutup :(

    ReplyDelete
  3. memang jaman dulu kl denger pskiater atau psikolog lgsg mikirnya buat org yg korslet pikirannya padahal ya enggak gitu juga... Untung akhirnya hilang dgn sendirinya ya mbak

    ReplyDelete
  4. Akuu...eemm, ga phobia sama apa-apa siih...
    Hanya gak nyaman kalau ingat masa lalu.

    Eh, beda lagi masalahnya yaa Un..?

    ReplyDelete
  5. Anakku takutnya sama binatang kecil yang terbang-terbang seperti laron, kecoak. Smoga tambah gede ketakutannya bisa hilang.

    ReplyDelete
  6. Aku dulu takut dengan gempa sampe parno kebayang ada goncangan dikit dikira gempa. Itu karena kaget saat pindah di tempat yang rawan gempa. Kalo sekarang alhamdulillah udah gak lagi karena pindah kota.

    ReplyDelete
  7. Aku pobia naek pesawat mba. Tapi moga ntar hilang pobia aku mba

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah nggak kena fobia apa-apa. Eh tapi sedikit takut sama ulat, ular, dan hewan melata lainnya sih. Nggak parah bange.

    ReplyDelete
  9. Saya ga ada phobia, moga jangan sampai. Ketakutan biasa yg lumrah aja sih...
    Tapi kalau di kampung saya masih ada juga pemikiran yg ke psikolog itu orang stress 😊

    ReplyDelete
  10. Mungkin ada trauma di masa lalunya Mbak, yg terekam di alam bawah sadar. Kalo aku takutnya sama cicak, bisa histeris sampe nangis :(

    ReplyDelete
  11. Kalo aku denger petir dan kilatnya bisa bikin jantung mau copot, deg2an sangat. Entahlah ini namanya phobia atau bukan ya. Hehe

    ReplyDelete
  12. Kalo aku sepertinya fobia kecoa, eh itu fobia juga bukan ya? Soalnya kalo ada kecoa atau di tempat yang terkenal banyak kecoa jadi nggak tenang hidupnya. Udah kayak dihantui setan, liat sekitar mulu memastikan nggak ada kecoa.

    ReplyDelete
  13. Kl aku pling takut sama anjing, gg menggonggong ajah takut....��

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah nggak ngalamin fobia, waah kalau ngalamin kayaknya nggak tahu gimana nanganinnya

    ReplyDelete
  15. Phobia itu memang pengobatannya dengan perlahan2 mencoba melawan phobia itu. Behaviour therapy kalo ga salah saya

    ReplyDelete
  16. Saya fobia ketinggian mba... hiks smp skrng klo k mall yg lbh dr lt4 dh gmetaran hiks aplg naik lift yg tranfarans.. tq tipsny y

    ReplyDelete
  17. iya ya mba.. fobia itu kadang hanya dimengerti oleh mereka yg fobia juga. banyak yang sebelah mata melihatnya, ah masak sih segitunya. Padahal fobia itu harus ditangani dengan benar juga. SEtuju mba Shona, pergi ke psikolog adalah jalannya..

    ReplyDelete
  18. Aku tuh anaknya penakut, segala takut. ya takut di ruangan tertutup, takut tikus, takut gelap, cm gatau ini masih dalam takut yg wajar atau enggaa. Semangat mbaaa!

    ReplyDelete
  19. Saya phobia sama kecoa, Mbak. Tapi sekarang udah mulai berkurang. Soalnya suami juga phobia kecoa, jadi mau gak mau harus ada salah satu yang berani. Terpaksa deh, saya yang maju kalo ada kecoa hihihi...

    ReplyDelete
  20. Aku baru tau ada fobia angin kencang... Tapi emang fobia itu banyak macemnya ya Mba, dan kadang suka terjadi karena pengalaman masa kecil yg kurang menyenangkan terhadap benda/hal tersebut. Aku sendiri alhamdulillah ngga ada fobia, cuman takut XD

    ReplyDelete
  21. Kalau jijik dan gak nyaman sama suatu benda sampai gak mau memegangnya, tapi gak sampai takut yg kyk gmn2 gtu, apa bisa dikategorikan phobia ya mbak?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Fashion Revolution In Digital World Bersama Rimma Bawazier

Tanggal 17 September 2016 kemaren, saya dan teman-teman dari komunitas Emak2 Blogger dan Blogger Bandung menghadiri “Indonesian Fashion Blogger Gathering.” Pertama undangan ini masuk, saya langsung antusias buat daftar. Pasalnya saya dari dulu emang menyukai dunia fashion.

Mengatasi Kulit Wajah Tipe Kering

Dari jaman puber, tipe kulit saya normal-kering. Dan biasanya tipe kulit ini jarang dihinggapi jerawat. Hanya, sempat di masa-masa ngerjain skripsi, jerawat tetiba dengan mudahnya bermunculan. Sepertinya sih efek dari stres, begadang dan tidur enggak teratur, menyebabkan hormon saya jadi kacau. 
Alhamdulillah pas hamil anak ketiga tetiba kulit saya kembali seperti sediakala. Biasanya langganan komedo dan kalau agak lebay dikit pake pelembab dan bedak yaudah si jerawat muncul lagi. Jadinya bersyukur banget si normal-kering kembali.

[Resensi] Luka Dalam Bara

Judul: Luka Dalam Bara Penulis: Bernard Batubara Ilustrasi sampul & isi: @alvinxki Penerbit: Noura (PT. Mizan Publika) Cover: Hard Cover Cetakan ke: 1 Halaman: 108 hal Tahun terbit: Maret, 2017 ISBN: 978-602-385-232-1 Harga: Rp. 49.000,-

Semua orang pasti punya masa lalu. Entah itu baik atau pun buruk. Berkisar tentang kisah kesedihan, kemarahan, cerita lucu, termasuk kisah percintaan.
Begitu juga yang dialami oleh Penulis. Fragmen-fragmen dalam bukunya menceritakan tentang kisah masa lalunya bersama sang mantan yang ia sebut sebagai nisan atau monumen.
Secara umum, tujuan penulis menulis buku ini adalah untuk kabur dari kenyataan. Baginya dunia sehari-hari, meskipun menyenangkan, selalu terasa kurang. Ia ingin menciptakan dunia yang nggak ia temukan di mana pun melalui tulisan. Ya, sebuah dunia alternatif.
Selain itu, untuk mengeluarkan ragam macam emosi yang nggak selalu bisa ia ungkapkan secara langsung. Dan.... alasan lainnya adalah untuk menyembuhkan dirinya dari perasaan-pe…