Skip to main content

Cerpen: Hipnotis

Ternyata bikin cerpen itu enggak mudah. Bukan berarti udah pernah bikin dan terbit di media, bakal lancar jaya di cerpen berikutnya, hoho. Sejak bergabung di FLP Sumbar, baru 1 cerpen yang saya hasilkan, deuh bikin malu FLP aja. Tapi yah, 1 cerpen ini tetap patut diapresiasi kan ya. Saya arsipkan di sini. Berikut cerpen tersebut ^_^

HIPNOTIS

Penulis : Shona Vitrilia


Lagi dan lagi. Ramli memandangi poster workshop itu. Matanya tak terganggu oleh seekor ulat bulu yang melintas di atas poster. Padahal ia phobia ulat bulu. Benar-benar membikin phobianya hilang seketika, hanya karena sebegitu tertariknya ia akan workshop itu.
Begitu saja. Pulang dan pergi, melewati sebuah dinding yang ditempeli poster. Setiap pergi, ia akan singgah di sana. Pulang, sama saja. Ini adalah malam kelima sejak poster itu ditempel. Pikir-pikir apa yang hendak dilihatnya. Malam begitu kelam. Lampu jalan berjarak lima meter dari dinding itu. Tentulah tak tampak tulisan barang sedikit pun. Meski punya hape untuk memperjelas tulisan, tak pula ia gunakan, karena isi poster itu sudah terekam baik di pikirannya.

Sesampainya di rumah masih saja poster itu terbayang-bayang. Terdapat gambar membayang di bawah tulisan. Perempuan yang sedang menutup mata dan di dahinya ada lingkaran yang awalnya kecil, semakin lama semakin membesar. Lingkarannya cukup banyak, hingga lingkaran itu melebihi kepalanya. Lalu di bagian bawah gambar terdapat seperti jam rantai, yang terlihat seolah bergoyang dari kiri ke kanan. Yang paling diingat Ramli adalah tulisan CH dan C.Ht. Ia ingin memperoleh gelar non akademis itu. Tapi….

Kalaulah tidak mengingat poster itu akan membawa manfaat buat orang lain, mungkin sudah ia tanggalkan dari dinding itu dan kemudian memindahkannya ke dinding kamarnya. Tapi tak apa, toh dengan mengingat baik-baik, menurutnya poster itu bisa menempel di mana saja. Di atap kamar ketika ia hendak tidur, di kamar mandi ketika ia hendak membuang hajat, di TV ketika ia hendak menonton TV.

“Ada apa dengan waang Ram? Akhir-akhir ini nampaknya waang sering murung,” tanya amak yang meski matanya hampir tak melihat karena katarak, tapi mata hatinya dapat melihat kegundahan anak-anaknya.

“Ah, oh tak ada mak.”

“Apanya yang tak ada. Jangan waang ragukan amak soal lihat-melihat.”

“Hm… ada workshop yang ingin sekali Ramli ikuti mak.”

***

Ramli kembali merenung. Ia memang tipe orang yang jika menginginkan sesuatu, sebisa mungkin akan ia usahakan untuk memperolehnya. Di kamar 2×3 m miliknya itu,tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda berwarna hitam yang ia peroleh dari lomba menulis dua tahun yang lalu. Sejenak ia ragu. Tapi mengingat perbincangannya yang terakhir dengan amak, membuatnya mantap hendak menjual laptop hadiah lomba itu. Amaknya bilang, bahwa ilmu itu lebih berharga dari barang berharga. Ramli pikir itu benar adanya.

Ketika muadzin telah selesai dengan adzannya, ketika imam telah selesai memimpin shalat subuhnya, ketika amak selesai membaca Al-ma’tsuratnya, dan Ramli pun selesai mengerjakan semuanya. Bolehlah dikata, bahwasanya Ramlilah yang mengumandangkan adzan, menjadi imam sekaligus yang menuntun amak jika sekali-kali lupa hafalannya. Setelahnya, ia bersiap-siap, membersihkan laptop dan memasukkannya ke dalam tas.

“Hendak ke mana Ram?” Pertanyaan amak mengagetkan Ramli. Baru saja ia membuka pintu kamar, amak sudah tahu jika ia hendak keluar rumah.

“Ke sini dulu Ram, ada yang mau amak bicarakan,” amak berkata lagi sebelum Ramli menjawab.

“Ada apa mak?” Ramli melihat jam tangannya.

“Duduklah waang dulu,” sepertinya ada hal serius yang hendak amak sampaikan. Ramli menuruti ajakan amak.

“Waang kemarin bilang ingin mengikuti apa itu namanya? O wokcop, worsop?” amak mengulang-ngulang kata workshop yang membuat Ramli sedikit tergelak.

“Workshop mak.”

“Ya itulah pokoknya. Ini kalung dan cincin Amak, waang jual lah ke pasar. Ambil semua untuk waang. Mudah-mudahan cukup,” mata Ramli berkaca-kaca. Apa jadinya jika ia menjual kalung dan cincin amak. Di kampung ini semua wanita seperti toko emas berjalan. Mungkin mereka akan melihat miring karena amak tak berbarang. Bahkan mungkin sampai juling-juling saking sengitnya menggosipkan amak.

“Ndak usah mak, Ramli mau….”

“Sudahlah ambil saja. Mak tahu, suatu saat Waang akan butuh untuk menambah ilmu. Jangan waangsia-siakan keinginan amak dan abak. Ilmu itu tidak satu. Semua orang berhak memiliki banyak ilmu. Termasuk waang Ram,” lagi-lagi amak memotong perkataan Ramli.

“Abak waang sudah tiada, buat beliau bangga.”

“Tapi mak, bukankah lebih baik jika uang ini amak gunakan untuk berobat mata.”

“Insya Allah Ram, dengan daun katarak saja, jika rutin amak teteskan ke mata tentu akan sembuh,” padahal Ramli tahu bahwa amak selalu merasa kesakitan yang amat sangat saat air daun itu masuk ke matanya. “Mak akan tahan bertahan berapa lama untuk menahan sakit itu?” tanyanya dalam hati.

“Sudahlah jangan berdebat lagi. Pergilah sekarang.”

***

“Memang Zan sekarang sedang dalam masa-masa sulit mak. Si Reni sering sakit-sakitan. Gaji habis buat berobat.”

“Waang terlambat datang. Mungkin si Ramli sudah mendaftar.”

“Mendaftar apa Mak?”

“Dia ingin menambah ilmu. Ikut… ah entah apa namanya amak ndak ingat. Yang jelas dalam rangka menambah ilmu.”

“Ilmu?”

“Iya, yang amak ingat contoh gampangnya itu kata si Ramli seperti si Romi Rafael.” Namanya dapat diingat amak dengan baik, karena dulu teman sepermainan amak sewaktu kecil bernama Romi Rafael juga.

“Apa? Hipnotis itu mak. Haram mak, itu haram hukumnya. Memakai jin. Kenapa amak izinkan Ramli menuntut ilmu yang dilarang oleh agama? Ndak ingat amak kejadian beberapa bulan yang lalu di Lampung?”

“Haram? Bercanda waang Zan. Ramli, waang, amak dan abak didik sedari kecil tak lepas dari Surau. waang juga tahu bagaimana adik waang tu. Janganlah berburuk sangka.”

“Jelas mak itu haram. Ah sudahlah mak, jelas Zan yang lebih membutuhkan uang, kenapa mak lebih memilih Ramli yang jelas-jelas akan menuntut ilmu yang tidak di ridhai Tuhan? Zan pulang.” Fauzan membanting pintu rumah. Tak pernah sebelumnya ia berperilaku demikian. Mungkin karena beban hidupnya sekarang. Masalah kecil menjadi besar, masalah besar menjadi semakin besar.

Dan benar kata amak. Ramli sudah selesai mendaftar. Air mukanya cerah. Perlu diketahui bahwa semua bermula bukan dari sehabis menonton acara Romi Rafael, melainkan dari artikel yang ia baca di internet. Tentang betapa besarnya manfaat hypnoterapi.

***

Akhirnya dua gelar non akademis itu ia dapatkan. Setelah mengikuti workshop dan kemudian mengikuti ujian. Ia pun mendapat pujian dari fasilitatornya. Karena menurutDavis Husband Scale of Hypnotic Susceptibility, ia berada di posisi 29 dari 30 angka skala yang ada. Semakin mendekati angka 30, semakin bagus. Setelah memperoleh sertifikat dari organisasi hypnosis & hypnotherapy pertama dan terbesar di Indonesia, Ramli kemudian mengikuti workshop lagi. Ia memutuskan untuk menjual laptopnya. Kali ini ia berharap memperoleh sertifikasi clinical hypnotherapy.

***

“Saatnya beraksi,” ucapnya dalam hati sembari tersenyum. Sebuah pamflet baru saja jadi. Hasil desainnya sendiri dan terlihat jauh lebih menarik dari poster yang membawanya mengikuti workshop kemarin. Sebenarnya Ramli ingin sekali membuka klinik terapi, tapi ia tidak memiliki cukup uang untuk itu. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menyebarkan pamflet agar orang-orang yang memerlukan jasanya bisa menghubunginya. Ia sebarkan di tempat-tempat umum. Terlebih di kampus-kampus. Ia menaruh harga khusus untuk mahasiswa. Barangkali mahasiswa-mahasiswa tahun akhir yang sedang mengerjakan skripsi memerlukan bantuannya. Memanajemen gangguang stres atau cemas saat akan ujian kompre.

Awalnya semua ini ia lakukan untuk menambah biaya berobat mata amak. Honor menulis tidak cukup karena uang tersebut ia gunakan untuk biaya kuliah. Amak juga tidak berpenghasilan tetap. Hasil berkebun tentu ada musimnya. Belum lagi potongan untuk menggaji orang, karena sejak mata amak sakit, amak tak pernah turun ke ladang. Namun siapa menyangka jika hypnoterapi juga bisa membantu menyembuhkan mata amak? Karena pada dasarnya kondisi mental dapat mempengaruhi kesembuhan suatu penyakit.

Dan memang benar, ini sudah hari ke empat belas. Jika dulu amak hanya bisa melihat Ramli seperti bayangan hitam, kini amak bisa melihat warna baju yang Ramli kenakan. Meski masih samar. Tentu semua butuh proses. Daun katarak juga mengambil bagian dalam proses penyembuhan amak.

Di hari ke empat belas ini pula Ramli memandang saldo tabungannya. Modal mengikuti workshop sudah balik. Yang paling besar pemasukannya ia peroleh dari mahasiswa dan dari rumah sakit. Sejak salah satu pasien menggunakan jasanya, maka bertiuplah angin memberi kabar pada pasien-pasien lain.

Ramli merasa benar-benar bahagia. Amak hampir sembuh, phobianya akan ulat bulu sembuh, klien juga riuh berdatangan. Meski demikian, Ramli tetap ingin mata amak diberi sentuhan medis. Rencananya nanti sore Ramli akan membawa amak ke dokter. Biar mata amak normal kembali.

Tapi kebahagiaannya itu sedikit tersapu setelah mengetahui dari amak bahwa Fauzan kakaknya pernah datang ke rumah dan mengatakan bahwa profesi yang ia jalani sekarang adalah profesi haram. Amak terloncat kata saat mereka berbincang-bincang di teras.

“Uda tentu tahu siapa Ram, kenapa uda bilang profesi hypnoterapis itu haram. Ram ndak mungkin memilih jadi hypnoterapis jika profesi ini memang haram adanya,” ucap Ramli pada amak.

Seminggu sudah berlalu, sejak amak-Ramli bawa berobat ke dokter. Amak sudah bisa nonton acara Romi Rafael sekarang. Saat sedang asyik menonton, pintu diketuk dengan cukup keras. Amak dan Ramli hampir jantungan dibuatnya. Ramli segera menuju pintu, jika tak segera di buka, barangkali pintu rumah roboh dibuatnya.

Fauzan dengan geram sudah berada di ambang pintu. Ia tidak sendirian, tapi dengan banyak orang. Mereka kemudian berteriak-teriak. Tidak jelas apa yang mereka teriakkan. Yang terdengar jelas hanya suara Fauzan. “Apa yang waang lakukan Ram? Ha, apa yang sudah waang lakukan?”

Ramli heran dengan pertanyaan kakaknya sekaligus risih karena air liur kakaknya itu muncrat ke wajahnya. “Tenang dulu lah Da. Ada apa ini? Baiknya dibicarakan baik-baik.”

“Apanya yang baik-baik? Kemarin di Pasar Pakan ada orang yang terkena hipnotis. Tadi di Belakang Balok beberapa mahasiswi juga ada yang kena hipnotis. Uang dan barang berharga mereka diambil semua.” Fauzan menjelaskan. Masih dengan berteriak dan air liur yang muncrat ke wajah Ramli.

“Lalu?”

“Lalu, lalu. Ya jelas waang pelakunya kan? waang menuntut ilmu itu kan? Ilmu haram itu?”

“Da, masuklah dulu. Kita bicarakan semuanya baik-baik.”

“Ah, di sini saja. Sungguh malu ambo punya adiak seperti….” Belum selesai ia berkata, tiba-tiba kayu jatuh menimpa kepalanya. Kayu itu jatuh dari atap, mungkin ujung-ujungnya telah habis dimakan rayap. Ramli sudah lama hendak ingin membetulkan, tapi kesibukannya sebagai mahasiswa sekaligus terapis membuatnya lupa.

Untungnya Fauzan tidak pingsan. Hanya kepalanya saja berdarah. Ketika semua orang bergerak hendak mengantarnya ke rumah sakit, ia langsung menolak mentah-mentah. Sebab ia takut sekali dengan jarum suntik. Apalagi jika kepalanya ini robek, tentulah bakal dijahit. Akhirnya Fauzan di bawa ke dalam. Amak berinisiatif ke belakang rumah untuk mengambil daun pucuk ubi guna menghentikan pendarahan Fauzan. Tapi pucuk ubi di belakang rumah sudah habis dijual dan sisanya sudah dimasak tadi pagi. Amak bergegas mencari di rumah tetangga.

Sementara di ruang tamu Fauzan meronta-ronta kesakitan. Ramli meminta izin pada kakaknya itu, agar ia bisa segera mengurangi pendarahan yang dialami uda Fauzan. Kakaknya tak menjawab. Erangan semakin menjadi. Seperti mau melahirkan saja.

“Da, jawablah pertanyaan Ram. Uda bersedia Ram hypnos? Biar darahnya berkurang.”

“Terserah waang laaa….” Fauzan setengah berteriak. Suaranya agak parau. Mungkin karena berteriak-teriak di depan rumah tadi.

“Bilang saja, Ya, Uda bersedia.”

“Yaaa… Uda bersediaaa….” Ramli meminta orang-orang untuk diam. Dan suara gaduh tadi hilang seketika kemudian berganti erangan kecil dan nafas yang tidak begitu teratur, namun semakin lama semakin teratur dan semakin teratur. Uda Fauzan diarahkan pada kondisi rileks. Kontraksi pembuluh darahnya pun menurun, sehingga pembuluh darah membesar. Akibatnya tekanan darah menurun dan pendarahan dapat berkurang.

Selesai. Semua orang ternganga. Fauzan juga merasa tak percaya. Amak datang dari arah belakang dengan mulut penuh berisi daun pucuk ubi. Amak berencana daun kunyahannya itu akan dibalurkan ke luka Fauzan. Seketika amak paham apa yang terjadi. Amak mengeluarkan daun pucuk ubi dari mulutnya dan segera menaruh daun kunyahan itu ke dahi Fauzan. Amak juga berkata, “Yang menghipnotis kemarin dan tadi siang sudah tertangkap.”


**Di muat di annida-online.com dan antologi cerpen FLP Sumbar.

Comments

Popular posts from this blog

Mengatasi Kulit Wajah Tipe Kering

Dari jaman puber, tipe kulit saya normal-kering. Dan biasanya tipe kulit ini jarang dihinggapi jerawat. Hanya, sempat di masa-masa ngerjain skripsi, jerawat tetiba dengan mudahnya bermunculan. Sepertinya sih efek dari stres, begadang dan tidur enggak teratur, menyebabkan hormon saya jadi kacau. 
Alhamdulillah pas hamil anak ketiga tetiba kulit saya kembali seperti sediakala. Biasanya langganan komedo dan kalau agak lebay dikit pake pelembab dan bedak yaudah si jerawat muncul lagi. Jadinya bersyukur banget si normal-kering kembali.

Fobia Angin Kencang

Ada yang pernah mengalami atau masih mengidap gangguan fobia? Saya dulu pernah. Fobia angin kencang. Lebih tepatnya sih, angin kencang yang muncul disertai awan gelap. Kalau cuacanya cerah malah enggak kenapa-napa. Dimulai sejak SD tapi lupa kelas berapanya, hingga SMA. Cukup lama ya?

Saya Kidal Bukan Kadal

Sejak kecil saya dianugerahkan bertangan kidal. Lha emang ada gitu pas gede tetiba kidal? *ngehehe. Masuk sekolah dasar kelas satu saya eksis belajar menulis hingga bisa menulis menggunakan tangan kidal.
Tapi kemudian Guru saya marah dan menyuruh saya belajar menulis kembali menggunakan tangan kanan. Kata Mama walau akhirnya bisa menulis dengan tangan kanan, tapi hasil tulisannya enggak sebagus tangan kiri. Tapi ya sudah lah, mau bagaimana lagi.